Sunday, April 7, 2013

[SEJARAH] Mengenal Lambang OSIS Di Seragam SMP, SMA & Lambang PASKIBRAKA

Selamat pagi selamat beraktifitas di hari senin yang cerah ini (udah siang gini coy!). hhee nggak papa karna pagi hari itu time yang tepat karna kita masih segar dan semangat. semoga kita selalu dibekali rasa semangat yang luar biasa amin. LAMBANG OSIS mungkin temen-temen khususnya yang sedang bersekolah di tingkat pendidikan SMP/SMA/SMK/STM  tidak asing lagi dengan lambang yang selalu menempel di saku kemeja seragam sekolah kita. begitu juga temen-temen yang sudah melewati tingkat pendidikan SMP/SMA/SMK/STM lainya. tapi apakah temen-temen tau siapa pencetus atau pembuat lambang OSIS ini?? (saya yakin 99% siswa tidak tau, karna awalnya tidak tau juga :) ). kemudian makna atau arti di balik lambang OSIS ini apakah temen-temen tau juga??. adalah satuhal yang setiap hari kita jumpai atau bahkan dikenakan di seragan sekolah namun kita tidak pernah sadar akan arti lambang OSIS ini bukan? bahkan kita tidak mau tau dengan apa sebenarnya arti di balik
lambang OSIS ini. ok tanpa memperpanjang argumen mari kita simak bersama awal mula di buatnya OSIS di Seragam Sekolah  

Mari kita sedikit mundur kebelakang, untuk bisa mengenang pembuat logo tersebut. Beliau adalah H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT (lahir di Kuningan, Jawa Barat, Indonesia, 20 Juli 1933), menghabiskan masa kecil di daerah kelahirannya, sampai tamat SMP di Purwakarta dan pindah ke Jakarta saat masuk SMA. Sejak kecil, jiwa seni sudah terlihat dalam dirinya. Tak heran bila setamat SMA Idik memilih seni rupa sebagai pilihan profesinya dengan menamatkan pendidikan sebagai sarjana seni rupa di Departemen Ilmu Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 9 April 1960. 


Idik Sulaeman memulai kariernya di Balai Penelitian Tekstil (1960-1964). Pada 1 Februari 1965 ia diangkat menjadi Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan yang saat itu dijabat Mayjen TNI dr. Azis Saleh.

Dunia seni dan tekstil harus ditinggalkannya karena pindah kerja ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan pada 1 Desember 1967. Saat inilah, ia banyak membantu Husein Mutahar dalam mewujudkan gagasannya membentuk Paskibraka.

Bersama dengan para pembina lainnya, Idik membantu Mutahar menyempurnakan konsep pembinaan Paskibraka. Pasukan yang pada tahun 1966 dan 1967 diberi nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, pada tahun 1973 mendapat nama baru yang dilontarkan oleh Idik. Nama itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan akronim dengan kepanjangan PASuKan PengIBar BendeRA PusaKA.

Selain memberi nama, Idik juga menyempurnakan wujud Paskibraka dengan menciptakan Seragam Paskibraka, Lambang Korps, Lambang Anggota, serta Tanda Pengukuhan berupa Lencana Merah-Putih Garuda (MPG) dan Kendit Kecakapan.

Pada 30 Juni 1975, ia diangkat menjadi Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Pembinaan Kegiatan di Direktorat Pembinaan Generasi Muda (Ditbinmud). Pada 9 Maret 1977, ia mencapai posisi puncak di Ditbinmud setelah ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga (Ditjen PLSOR). Tiga tahun penuh ia benar-benar menjadi ”komandan” dalam latihan Paskibraka, yakni Paskibraka 1977, 1978 dan 1979.

Pada 24 November 1979, Idik ditarik ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dikdasmen) dan menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan sampai 15 November 1983. Selama empat tahun itu, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan pengalaman kerja di bidang tekstil, Idik mencatat sejarah dalam penciptaan seragam sekolah yang kita kenal sampai sekarang: SD putih-merah, SMP putih-biru dan SMA putih-abu-abu, lengkap dengan lambang sekolah dasar (SD) dan OSIS yang kini selalu melekat di saku kiri seragam sekolah.

Namun kini beliau telah wafat pada hari 3 hari yang lalu tepatnya tanggal 4 April 2013 pada pukul 08.45 WIB di RS Siloam karena stroke. Meninggalkan sang istri Aisah Martalogawa dan tiga orang anak, yakni Ir. Ars Isandra Matin Ahmad (yang beristrikan Ir.ars Retno Audite), Isantia Dita Asiah (yang bersuamikan Drs. Mohammad Imam Hidayat), dan Dra Isanilda Dea Latifah yang bersuamikan Ari Reza Iskandar). Dari ketiganya, Idik memiliki enam orang cucu, masing-masing 3 cucu laki-laki dan 3 cucu perempuan.

Lambang OSIS

Bunga bintang sudut lima dan lima kelopak daun bunga
Generasi muda adalah bunga harapan bangsa dengan bentuk bintang sudut lima menunjukkan kemurnian jiwa siswa yang berintikan Pancasila. Para siswa berdaya upaya melalui lima jalan dengan kesungguhan hati, agar menjadi warga negara yang baik dan berguna. Kelima jalan tersebut dilukiskan dalam bentuk lima kelopak daun bunga, yaitu: abdi, adab, ajar, aktif, dan amal.

Buku terbuka
Belajar keras menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi, merupakan sumbangsih siswa terhadap pembangunan bangsa dan negara.

Kunci pas
Kemauan bekerja keras akan menumbuhkan rasa percaya pada kemampuan diri dan bebas dari ketergantungan pada belas kasihan orang lain, menyebabkan siswa berani mandiri. Kunci pas adalah alat kerja yang dapat membuka semua permasalahan dan kunci pemecahan dari segala kesulitan.

Tangan terbuka
Kesediaan menolong orang lain yang lemah sesama siswa dan masyarakat yang memerlukan bantuan dan pertolongan, yang menunjukkan adanya sikap mental siswa yang baik dan bertanggung jawab.

Biduk
Biduk / perahu, yang melaju di lautan hidup menuju masa depan yang lebih baik, yaitu tujuan nasional yang dicita – citakan.

Pelangi merah putih
Tujuan nasional yang dicita–citakan adalah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera baik material maupun spiritual.

Tujuh belas butir padi, delapan lipatan pita, empat buah kapas, lima daun kapas
Pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah peristiwa penegakan jembatan emas kemerdekaan Indonesia mengandung nilai–nilai perjuangan ’45 yang harus dihayati para siswa sebagai kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional. Kemerdekaan yang telah ditebus dengan mahal perlu diisi dengan partisipasi penuh para siswa.

Warna kuning
Sebagai dasar lambang yaitu warna kehormatan/agung. Suatu kehormatan bila generasi muda diberi kepercayaan untuk berbuat baik dan bermanfaat melalui organisasi, untuk kepentingan dirinya dan sesama mereka, sebagai salah satu sumbangsih nyata kepada tanah air, bangsa dan negara.

Warna coklat
dapat berarti sifat kedewasaan dan sikap rela berkorban bagi tanah air.

Warna merah putih
Warna kebangsaan Indonesia yang menggambarkan hati yang suci dan berani membela kebenaran.


Selain Lambang OSIS beliau juga pencetus dari lambang PASKIBRAKA
Lambang dari organisasi PASKIBRAKA adalah bunga teratai






  • Tiga helai daun yang tumbuh ke atas: artinya paskibra harus belajar, bekerja, dan berbakti
  • Tiga helai daun yang tumbuh mendatar/samping: artinya seorang pakibra harus aktif, disiplin, dan bergembira


  • Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih "Pasukan Pengerek Bendera Pusaka". Barulah pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

    Buku Panduan


    Riwayat Hidup H. Idik Sulaeman Nataatmadja, AT

    Lahir :Kuningan, Jawa Barat, 20 Juli 1933

    Pendidikan :

    • Sekolah Rakyat di Tasikmalaya
    • SMP Tasikmalaya dan Purwakarta
    • SMA Boedi Oetomo Jakarta
    • Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, 1954-1960

    Istri : Aisah Martalogawa

    Anak :
    • Isandra Matin ahmad
    • Isantia Dita Aslah
    • Isanilda Dea Latifah


    Pekerjaan :
    • Desainer tekstil di Balai Penelitian Tekstil Bandung, 1960-1964
    • Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan, 1965-1967
    • Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan Direktorat Jenderal Urusan Pemuda dan

    • Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1967-1975
    • Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Pelatihan, 1975-1977
    • Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda Direktorat Jenderal

    Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga, 1977-1979
    • Direktur Pembinaan Kesiswaan Ditjen Pebinaan Dasar dan Menengah, 1979-1983
    • Dosen Fakultas Teknik Universitas Trisakti , 1985-2003
    • Pembantu Rektor III Universitas Trisakti, 1989

    Riwayat kepanduan :
    • Pandu perintis di Pandu Rakyat tasikmalaya, 1946
    • Pandu pawang di Purwakarta, 1950
    • Pandu penuntun di Jakarta
    • Andalan Nasional Pengurus Himpunan Pandu dan Pramuka Werda, 1998


    Penghargaan :
    • Wibawa Seroja Nusantara
    • Bintang Jasa Pratama Karya Satya XXX

    Saya yakin mungkin sobat-sobat sekalian sekarang lebih mengerti tentang OSIS ini' semoga beranfaat dan terus bersemangat untuk bersekolah :).